Sukacita Bulan Ramadan

“Banguni saja biar Pak Edi juga ikut sahur, sambil banguni Aril juga, mereka tidur sama di kamar”

“Ah jangan mi. jangan ganggu Pak Guru. Banguni Aril saja pelan pelan, biar Pak Guru tidak terganggu”

Begitulah perdebatan di hari pertama sahur puasa bulan ramadhan di rumah, antara ibu dan nenek. Ibu dan bapak ingin saya ikut sahur, walaupun nggak puasa, tetapi ikut sahur saja tiap hari. Tapi nenek melarang, jangan. Nanti Pak Guru gak nyaman. Terganggu  tidurnya.

Aku mendengar sekilas  percakapan itu dari kamar. Saat pertanda sahur dari masjid terdengar, aku sudah bangun tapi masih malas. Kulihat jam masih setengah tiga. Apalagi itu masih pertama dan saat itu Aril (adik angkatku) tidur dengan kaki diatas ku, tanganku ditimpa badannya yang super gemuk. Rasa malas semakin besar. Aku berusaha bangun dan menggeser badannya. Tiba tiba bapak sudah di pintu kamar.

“Eh,  sudah bangun, ayo sini mi kita (kamu) ikut sahur”. Kata Bapak sambil masuk dan memukul kaki aril dengan maksud membangunkannya.

“Iye Pak”  jawabku.

Singkat cerita kami bangun dan sahur. Ibu bercerita kalau mereka berdebat mau memanggilku ikut sahur atau tidak.  Aku hanya tertawa, dan bilang kalau aku akan ikut sahur tiap hari. Kayak ceritaku kemaren sore dengan bapak.

“puasa gak puasa ya, ikut sahur saja”, kataku.

Waktu sahur itu juga aku bilang ke Bapak mau ikut puasa. Awalnya dia bilang jangan.  Makanan selalu ada di dapur. Dan gak semua juga ikut puasa. Ibu tidak ikut puasa karena sedang sakit.Tapi aku memang meniatkan untuk puasa. Itu menjadi tantangan buatku, walaupun niatnya beda dengan puasanya bapak.

Dan setelah berpuasa hari pertama, satu jam menuju magrib kami sudah berkumpul menanti santapan buka puasa pertama. Menantikan yang sudah kami rencanakan sejak minggu sebelumnya. Buka puasa pertama, makan banyak serba manis, pedas dan pokoknya enak. 4 hari sebelumnya Suhartin (adik ibu) sudah belanja dari desa sebelah. karena di desa tidak ada stok untuk di beli.

Rencanaya aku mau ikut bantu memasak, tetapi adalah suatu hal yang janggal kalau saya ikut memasak di rumah sementara ada bebebrapa perempuan yang bisa. Kecuali sedang tinggal sendiri, tidak ada permpuan baru saya masak. Dan akhirnya aku dan bapak hanya menunggu dan tinggal menyaantap saja. Kami bercerita dan bercanda saat menunggu magrib. Kata Gaulnya ngabuburit.

Sukacita yang luar biasa saat itu, kami bercerita tentang puasa tahun sebelumnya, lebaran nanti bagaimana, sampai tertawa melihat aril yang sudah menghabiskan 3 kali lebih banyak dari porsi kami masing masing. It was my unforgetable breakfasting, yeaahhh.

Melihat Mereka Teraweh

Bapak sudah siap pergi teraweh, yang lain juga sudah. Semua malam itu teraweh, dan entah kenapa senang sekali melihat mereka saat itu. “ariel cepat ko, semua uda siap siap ini. Lihat itu bapak uda pergi duluan” kataku cerewet pada ariel.

Semua pergi teraweh, kecuali aku dan Ikra, keponakan Bapak yang super imut masih belum 2 tahun. Kami hanya di teras sambil ku gendong Ikra, melihat semua bersukacita. Sayapun bersukacita. seperti sholat id versi malam, semua memakai mukena dan sarung juga baju koko. Rasanya ada semangat baru, aura positif yang menggebu gebu saat melihat mereka pergi teraweh, Eaaa.

Dari gelapnya jalanan, aisah memanggil “Pak guru, pigi teraweh dulu” katanya. “Iyo” jawabku. Aku melihat anak anak lain bersamanya. Mereka hanya say hai, dan ada yang memanggil manggilku. Yang laki laki datang sebentar menghampiri, memberitakan kalau dia teraweh malam itu. Mereka tahu Pak Gurunya gak ikut. Mereka paham kalau cara sembayang nya pak gurunya beda.

Sekitar dua minggu bulan puasa, aku masih di Sulawesi. Beberapa hari di desa dan di kabupaten. Ketika di kabupaten juga demikian, puasa gak puasa aku tetap ikut sahur dengan 6 teman lainnya. Kebetulan hari itu kita kumpul di kabupaten, menjemput pengajar muda penerus di desa masing masing.

Menghabiskan delapan hari bulan Ramadan di desa sebelum kembali ke Jakarta adalah hal yang paling berkesan. Hingga hari ini di hari Lebaran saya teringat akan mereka disana.

Pasti mereka sedang bersukacita,  sholat id bersama Ayenda (Bu Guru penggantiku di sana yang juga merayakan lebaran)sedang makan bersama, sedang maziarah (silaturahmi). Di hari ini ingin sekali aku hadir disana, melihat kembali mereka pergi ke masjid rame rame, sholat ied dan makan bersama. Ingin sekali kusalami mereka hari ini, dan bilang selamat hari lebaran.

Tapi apa daya, menelpon juga tidak bisa. Andai angin bisa bawa kabar ini, ingin kusampaikan banyak banyak pesan. Terutama pesan ini:

Selamat Hari Lebaran Bapak, Ibu, dan Anak-anak.

Iklan

Senin Pagi Bersama Bapak

How lucky i am to have something that makes saying goodbye so hard – winnie the poh

Pagi itu dingin sekali, jam masih belum sampai di angka enam. Aku menuju teras rumah, kulihat bapak duduk disana. Aku mengambil kursi duduk dekat engan bapak, dengan posisi mengobrol seperti kebiasaan kami di pagi hari sebelum memulai aktivitas di luar rumah.

Sebenarnya badan masih remuk, masih pengen tidur, setelah kemaren mandi lumpur karena mendorong motor di gunung saat perjalanan ke desa bersama bapak. Tetapi aku tidak mau melewatkan kebiasaan pagi itu. Kebiasaan yang akan menjadi yang terakhir kalinya bagiku bersama bapak di desa.

Sama seperti pagi biasanya dingin, awan awan hendak naik menuju bukit bukit tinggi yang mengelilingi desa. Bedanya pagi itu tidak ada kopi maupun gorengan. Hari itu adalah puasa hari kedelapan.

Suasananya pun beda dari biasanya. Seakan tidak tau mau ngobrol apa, aku hanya memandangi setiap sudut desa yang dikelilingi awan putih. Semua tampak, karena kami tinggal di rumah panggung setinggi 2,5 meter dari permukaan tanah. Tidak ada obrolan dalam sekejap itu. Aku hanya berpikir, ini hari terakhir di desa. Berarti hari terakhir juga melalui kebiasaan pagi ini bersama bapak.

Tak ingin kusia siakan pagi itu, aku membuka obrolan dengan bapak.

“satu jam lagi udah nggak disini, udah tinggalkan desa ini. Pasti nanti rindu sama semua yang ada disini Pak” kataku.

Kulihat bapak menunduk.

Dari tadi obrolan kami kosong, mungkin semua karena suasana hati. Perasaan campur aduk. Aku antara senang dan sedih akan pulang, perasaan campur aduk. Tidak tahu kapan akan datang lagi. Tidak ada kepastian. Aku menerka bapak juga sedih.

“cepat sekali yah,,, kayak baru kemarin saja kita (kamu) datang. Dan ternyata sudah setahun dan mau pulang” kata bapak.

Kembali hening, aku tak tau berkata apa lagi. Jantung berdetak kencang, seakan tak percaya hari itu aku pulang ke kabupaten, dan besoknya ke Jakarta.

“Pak Makasih ya, sudah menerima saya disini” “minta maaf kalau saya banyak salah selama disini. Makasih sudah menjadi keluarga yang berarti untuk saya selama disini” kataku dengan terbatah batah.

Bapak menunduk dan aku juga ikut memalingkan tatapan dari bapak. Aku seakan menambah bumbu kesedihan dengan kata kata perpisahan itu.

“saya sangat bersyukur dipertemukan dengan Bapak dan Ibu” “banyak sekali hal yang saya syukuri, dan tidak tau mau membalasanya dengan cara apa. Tuhan lah yang balas dengan kesehatan dan kelancaran rejeki Bapak dan Ibu nanti kedepan” tambahku lagi.

Tidak pernah aku mengucapkan kata kata perpisahan secara langsung empat mata seperti itu. Rasanya tanggul air mataku hampir saja jebol saaat itu.

Bapak yang tadi menunduk, terbangun menatap kearah masjid. Entah kenapa dia tak mau menaatapku seperti biasa.

“saya juga minta maaf, kalau ada salah sama kita (kamu). Nggak hanya kita (kamu), kami juga bersyukur kita (kamu) tinggal disini. Jujur saya sangat sedih kita bakalan pulang” “tidak tahu pasti kapan akan datang lagi kesini, itu yang buat saya sangat sedih”.

“Satu lagi, Ibu, mamanya Ariel nggak ada disini. Anak anak juga. Hanya saya yang bisa berangkatkan kita dari rumah ini. Mereka nanti di lalomerui saja” kata bapak.

Ibu memang lagi sakit. Semenjak dua minggu sebelumnya. Ibu ada di lalomerui, desa sebelah yang akan kulalui kalau pulang. Aku akan singgah juga disana untuk pamitan.

Aku dan bapak memang cukup dekat ketika di rumah. Tiada hari tanpa bercerita kalau bapak sedang di rumah. Kata orang bapak pendiam, jarang ngobrol. Tapi beda denganku, kami biasa bercerita berjam jam. Ada saja pokok bahasan kami. Mulai dari masalah sekolah, politik, desa, ahok, korupsi, hingga kampungku di Medan.

Setiap pagi, kami adalah yang paling cepat bangun. Ngopi bersama di teras atau di kolong rumah, kadang bapak yang buatkan kopinya. Kalau aku bangun duluan, berarti aku yang buat kopi.

Malam, kadang kita belajar bersama. Bapak adalah kepala desa. Kadang dia minta buatkan contoh buku kas keuangan yang bagus. Mengetikkan contoh surat, mengajarinya belajar laptop bahkan menonton film di laptop sama sama.

Setiap saat jam lampu menyala dari genset, kita menonton TV . Yang kita tonton adalah berita dan acara dangdut indosiar. Kadang sinetron kalau ada anak anak. Dan tak jarang kita berdiskusi tentang apa yang sedang terjadi.

Kedekatan itu membuat berat untuk meninggalkan bapak. Bapak sudah seperti sahabat bagiku. Apalagi umur kami hanya terpaut sepuluh tahun saja.

Dan pagi itu, pagi terakhir yang paling mengharukan dari pagi lainnya. Pagi dimana aku mengutarakan rasa syukurku dipertemukan dengan bapak dalam ungkapan kata kata perpisahaan. Sampai tanggul air mata sedikit bocor. Cengeng memang, tapi begitulah adanya.

Tak mau berlarut dalam sedih pembicaraan kami berlanjut kearah rencana rencana kedepan. Mau ngapain dan mau kemana. Bapak juga bilang asal ke kota, dapat sinyal akan langsung telepon. Untuk melepas rindu katanya.

Pembicaraan kamipun terpotong saat Ayen datang, dan dan sudah siap untuk acara pisah sambut di sekolah yang sirencanakan kepala sekolah. Aku yang masih posisi memakai sarung, bergegas untuk siap siap ke sekolah.

Ayen adalah Pengajar Muda angkatan XIV, dan angkatan kedua di konawe penerusku setahun ke depan di desa Walandawe. Setelah 3 hari diperjalanan menuju desa karena hal hal tidak terduga, akhirnya dia bisa saya antarkan hingga kerumah.

Belajar Menulis dengan Jurnal Harian

PicsArt_04-04-01.19.11[1]

Aldi dengan Buku Jurnal Hariannya

Saya membuka dan membaca lembar per lembar buku jurnal mereka. Banyak hal yang membuat saya tersenyum senyum melihat isi buku mereka masing masing. Mulai dari bentuk tulisannya hingga idenya. “saya mau pergi ke medan suatu saat nanti, disana ada Pak Guruku bernama Pak Edison” Rikal menulisnya pada tulisan bertema “Kota Impian”.

Buku Jurnal, begitu kami menyebut buku itu. Buku berisi 58 lembar itu mereka jadikan sebagai wadah untuk belajar menulis setiap minggunya. Dalam buku tersebut terdapat tulisan sederhana karya mereka sendiri dengan berbagai tema yang saya berikan.

Menulis dibuku jurnal ini dimulai sejak oktober, semester lalu. Standar kompetensi menulis dalam pelajaran bahasa indonesia adalah latar belakang saya membuat mereka menulis di buku jurnal. Dan untuk menegejar ketertinggalan pelajaran bahasa Indonesia adalah tujuan awal buku jurnal ini, hingga sekarang buku itu juga menjadi sebuah dokumentasi perkembangan belajar menulis mereka.

Semester lalu saat pelajaran bahasa Indonesia, saya minta mereka untuk mengerjakan latihan mengarang. Hasil karangan minimal setengah halaman. Tetapi tak satupun dari mereka yang bisa mencapainya. Bahkan hanya dua baris saja. Selain itu tulisan yang sulit dibaca, penuh coretan, penggunaan huruf kapital masih belum benar dan bahasa tulisan dicampur dengan bahasa daerah.

Akhirnya buku jurnal ini adalah solusi yang saya buat. Dengan buku ini mereka dapat belajar banyak hal dalam menulis.

“tulislah apapun yang kamu pikirkan sesuai tema yang Pak Guru berikan” “bagus atau tidak tulisanmu urusan belakang” kataku pada mereka. “oh iya, bukunya harus bertahan sampai tahun depan ya. Jadi kalau salah menulis jangan dirobek. Paham ya?” pesanku kepada mereka untuk mengurangi kebiasaan mereka merobek buku. “Paham Pak guru” jawab mereka kompak.

Hasil tulisan mereka bermacam macam, kadang hanya satu dua baris saja untuk satu tema, beberapa tidak terbaca dan dipengaruhi bahasa daerah. Tetapi setiap tulisan itu saya apresiasi dari segi ide dan kerapiannya. Perbaikan adalah hal yang wajib saya berikan sehingga mereka belajar dengan memeperbaikinya di tulisan berikutnya. Bermodal peribahasa “Ala Bisa Karena Biasa” saya menyemangati murid murid untuk terus belajar menulis.

Hingga sekarang mereka bisa menulis lebih baik dan belajar banyak hal yang sesuai dengan kompetensi dasar pada pelajaran bahasa Indonesia. Seperti, menggunakan huruf kapital, menyusun kata menjadi kalimat yang baik, kata kata baku, mengembangkan ide menjadi cerita, mengenal paragraf hingga membuat syair puisi.

Mereka dapat mengejar beberapa pelajaran bahasa Indonesia yang belum diketahui atau tertinggal sebelumnya. Dan sekarang, mengungkapkan pikiran pada dua halaman bukunya bukanlah hal sulit lagi bagi tiga orang dari mereka Asni, Dewa dan Rikal.

“Pak Guru, tulisanku dulu Cuma cua dua baris saja satu tema, sekarang tulisan terakhirku sampai dua lembar satu judul” kata Asni.

Sayapun berpesan kepada mereka untuk tidak berhenti belaljar menulis. Karena suatu saat nanti itu akan sangat berguna bagi mereka. Semangat mengajari mereka menulis juga karena Pak Gurunya sejak sekolah hingga kuliah tidak pernah memperhatikan dan konsiten bagaiamana menulis yang baik. Hingga saat ini Pak gurunya juga masih belajar membuat tulisan yang bagus.

 

Inspirasi Dari Swis

PicsArt_04-04-12.55.50[1]Inspirasi adalah salah suatu mantra yang menggerakkan hati untuk memulI sesuatu.

Kali ini murid murid kelas 4, 5, dan 6 mendapatkan inspirasi tentang luar negeri, sekolah, belajar dan hal lainnya dari empat orang yang berasal dari Swiss. Mereka hadir di sekolah, belajar bersama kami di hari selasa, minggu pertama di bulan april.

Sehari sebelumnya, Carlo salah satu dari mereka datang menghampiri saya dan Pak Rende yang sedang  memperbaiki pagar Masjid. Sepertinya dia baru saja mengelilingi desa kecil kami sendiri. Dari jauh seperti ingin mengajak berbicara tapi ragu karena tidak bisa bahasa Indonesia, saya pun menyapanya lebih dulu atas saran dari pak Rende. Sambil mengecat pagar, kami bercerita banyak hal. Tentang Swiss, Indonesia, desa kami sampai ketertarikannya bermain bersama anak anak dan aktivitas belajar disekolah kami. Saya pun mengajaknya bermain sepakbola bersama anak anak sore itu, dia memilih jadi penjaga gawang.  Dia menyampaikan ketertarikannya beraktivitas bersama anak anak di sekolah. dengan bersemangat saya mengajaknya untuk datang ke sekolah besoknya.

Carlo, yang merupakan pekerja sosial, datang bersama Stephen dan masing masing putri mereka. Stephen yang sudah fasih berbahasa Indonesia, pernah mengunjungi Walandawe saat bekerja sebagai konsultan tambang nikel lima tahun lalu di desanya Aqim, Lalomerui. Kali ini dia datang lagi, untuk melepas rindu kepada Pak Rende dan warga lainnya.

Selasa pagi, Stephen dan Carlo belajar bangun ruang bersama kami di kelas. Tidak bisa berbahasa indonesia sama sekali, tak menghalangi niat Carlo membantu Aldi membuat kubus, balok dan limas dengan alat peraga lidi dan plastisin. Sambil mengarahkan camera hp nya, mereka memperhatikan saya mengarahkan murid murid mencari tau apa saja sifat sifat bangun ruang dari bangun yang kami buat. Murid murid yang jumlahnya delapan orang awalnya malu malu menjawab, tetapi lama kelamaan tampak lebih semangat dan dekat dengan Carlo dan Stephen.

Setelah selesai beberapa bagian, saya pun meminta Pak Stephen memberikan wejangan kepada  murid murid.

“jangan malu sekolahmu sederhana, yang penting adalah motivasi belajar”. “Kalau kamu pintar, suatu saat kamu akan punya banyak pilihan mau jadi apa dan mau pergi kemana” kata Pak Stephen. “Kuncinya adalah disiplin waktu, disiplin dalam tugas dan memiliki kemauan” tambahnya lagi. Dia juga menjelaskan asal negara mereka dan bagaimana mereka tiba di desa Walandawe.

Pesan pesan Pak Stephen dan foto bersama menutup pertemuan kami hari itu. Carlo yang berusaha berkomunikasi dengan murid murid mengucapkan Terimakasih sambil tersenyum. Selanjutnya mereka akan berkunjung ke desa Puuwirano dengan berjalan kaki. Desa itu adalah tempat kelas jauh kami berada.

Dari pertemuan itu, murid murid terinspirasi banyak hal, salah satunya adalah kemauan belajar yang lebih tinggi lagi. “saya mau tinggal sama Pak Guru saja lah, biar tiap malam belajar bahasa Inggris dan bisa bicara sama bule kayak Pak Guru” kata Asni. Saya hanya tersenyum mendengarnya.

Upacara Perdana

upacara.jpg

“Hiduplah Indonesia Raya…” lirik terakhir lagu tersebut mengantarkan bendera merah putih sampai di ujung tiang bendera sekolah kami. Saat itu senin di awal bulan Oktober, pertama kali kami menyanyikan Lagu Indonesia Raya di lapangan untuk mengiringi naiknya bendera merah putih berkibar di langit biru SD N Wiwirano Atas, Desa Walandawe, Kecamatan Routa. Dengan suara yang merdunya pas pasan, dan kadang kadang tidak serentak kami peserta upacara yang berjumlah hanya 21 orang (dengan petugas) menyanyikan lagu tersebut dengan penuh semangat.

Ditengah teriknya matahari pagi saat itu, upacara bendera yang kami sebut “upacara perdana” itu diikuti Kepala Sekolah, dua orang Guru, dan 18 siswa (6 sebagai sebagai petugas). Pada foto diatas tampak suasana upacara bendera yang sempat saya abadikan pagi itu.

Sedikitnya jumlah peserta upacara adalah salah satu alasan mengapa upacara tidak pernah terlaksana di SDN Wiwirano Atas. Pak Ramlin, satu satunya guru tetap mengutarakan hal itu. “jumlah siswa hanya belasan, jadi saya buat apel pagi saja. Begitulah selama enam tahu saya mengajar disini Pak Edi” katanya saat saya berdiskusi dengannya di sekolah. Tetapi beliau jugalah yang pada akhirnya sangat bersemangat menyambut baik saat saya ajak melaksanakan upacara bendera disekolah dengan kondisi jumlah siswa keseluruhan hanya 18 orang. Hingga pada akhirnya kamipun memulainya.

Satu bulan sebelumnya murid murid berlatih lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional lainnya. Saat itu, mereka tidak mengetahui satu pun lagu nasional. Hanya ada dua orang saja yang mengetahui lagu Garuda Pancasila. Baris berbaris juga demikian, diperkenalkan dari awal. Murid murid sangat bersemangat untuk hal baru, demikian juga untuk berlatih lagu dan baris berbaris hingga upacara. Mereka melakukannya dengan semangat.

Hingga upacara perdana itu terlaksana mereka selalu bersemangat dengan upacara bendera. Di kelas besar, tujuh murid saya selalu bersorak “Yeee…” saat diminta latihan upacara. Mereka membayangkan dirinya menjadi tentara dan pahlawan saat menjadi petugas upacara.

“Pak Guru, kalau jadi pemimpin upacara, nanti saya akan seperti tentara to?”. “pembawa bendera juga, to Pak Guru?”kata Aldi dan Herdin disela sela latihan. Kedua murid saya itu memang terobsesi dengan tentara, seperti yang dia tempelkan di pohon cita cita.

“Pak Guru, dulu Pahlawan meninggal supaya bendera merah putih berkibar dan kita bebas dari penjajah. Makanya kita harus upacara bendera to?” kali ini kata Rikal. Saya tersenyum sambil menjawab semua pertanyaan mereka tentang upacara.

Pertanyaan Rikal tersebut adalah sepenggal dari jawaban yang saya berikan dulu, ketika dia bertanya “Pak Guru, kenapakah kita harus upacara bendera? Soalnya kami tidak pernah upacara”. Saya senang Rikal masih mengingat penjelasan saya itu.

Satu bulan semua dipersiapkan, mereka pun melakasankannya dengan sangat baik. Tidak tanggung-tanggung murid murid melebih ekspektasi saya. Menirukan tentara, begitulah suara dan langkah mereka saat bertugas. Diawal saya memang pernah menunjukan video upacara kenegaraan 17 Agustus dan upacara lainnya yang dibawakan oleh tentara dan paskibraka. Mereka menyerapnya dengan baik.

Tidak hanya petugas, 12 murid lainnya yang di atur oleh Pak Ramlin menjadi 12 baris (satu orang satu baris), mengikuti dengan baik upacara bendera sampai selesai. Dan saat itu kepala sekolah berpesan dalam amanatnya, upacara bendera akan menjadi rutin setiap seninnya. Saya berharap nantinya upacara bendera rutin ini tidak hanya meningkatkan cinta tanah air tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi murid murid di SD N Wiwirano tas.

Menjadi Pengajar Muda (PM)


MENJADI PENGAJAR MUDA (PM) INDONESIA MENGAJAR (IM)
Pengajar Muda, sebutan untuk guru pilihan Indonesia Mengajar setelah melalui 3 tahapan seleksi yang memakan waktu kurang lebih 4 bulan. Setelah mengikuti proses seleksi tahap demi tahap, nama saya menjadi salah satu yang disebutkan di pengumuman resmi Calon Pengajar Muda angkattan 12, yang mana akan mengikuti pelatihan selama 2 bulan di Jakarta dan Purwakarta.
Menjadi pengajar muda cukuplah sulit, menurut pengalaman saya. Kesulitan diawal adalah memutuskan untuk berkarir di sektor industri atau menundanya untuk menjadi seorang guru sd selama setahun di pelosok yang belum pasti dimana. Namun dengan motivasi mengabdi dan membayar hutang ke Indonesia, saya beranikan jari ini mendaftar online di website indonesia mengajar.
Kesulitan selanjutnya, bersaing dengan hampir 15 ribu pendaftar. Info yang saya dapat setelah dinyatakan lolos ke 200 besar. Tahap 200 besar disebut tahap Direct Assesment, pada tahap ini diseleksi kembali secara langsung oleh Indonesia Mengajar. Ini merupakan seleksi yg paling ketat dari banyak seleksi yang pernah saya ikuti. Sekedar info, tahap ini dilakukan di 5 kota, salah satunya Medan. Test nya sendiri adalah wawancara, fgd (focus group discussion) , psikotest, dan test mengajar. Untuk test ini dihadirkan Assesor dari DDI yang merupakan psikolog dan alumni Pengajar Muda sendiri. Dua minggu kemudian saya tidak menyangka bisa menjadi salah satu dari 60 orang yg dinyatakan lolos dan lanjut tahap test kesehatan (medichal check up).
Saya tidak tahu bagaimana penilaian dari IM sendiri. Yang saya tahu saya bersaing dengan orang orang hebat, yang mana saya sudah mencari profile beberapa peserta test sebelumnya. Mereka adalah mahasiswa berprestasi, memiliki latar belakang organisasi yang tekenal, bahkan menjadi founder suatu komunitas gerakan. Tak sedikit jhga dari mereka memiliki prestasi internasional yg membuat mereka bolak balik keluar negeri. Ngeri ya…
Singkat cerita saya lolos tahap test kesehatan dan sampai pada tahap tanda tangan komitmen bertugas selama setahun ditambah pelatihan 2 bulan. Hal sulit disini adalah memberitahu keluarga dan meyakinkan mereka akan pilihan ini. Bapak dan Ibu setuju saya memilih jalan ini, tentunya dengan menjelaskan terlebih dahulu motivasi saya ikut program ini. Walaupun awalnya mereka lebih senang jika saya bekerja di perusahaan, bukan mrnjadi seorang guru SD. Penolakan sendiri datang dari abang saya, tetapi keputusan tetap ditangan saya. Beliau menyerahkan sendiri, dan berpesan untuk memikirkan secara matang.
Tiba dihari ulang tahun saya 14 Maret, keputusan untuk program ini saya ambil dengan yakin. Saya yakin karena motivasi awal saya. Setahun 2 bulan akan bergabung dengan IM. Dan 21 maret, resmi menjadi Calon Pengajar Muda angkatan 12 Indonesia Mengajar. Selanjutnya akan mengikuti pelatihan 2bulan untuk mengubah Calon pengajar muda XII menjadi Pengajar Muda XII.
Setelah pengumuman itu saya resign dari tempat kerja, dan menghadapi banyak pertanyaan kenapa ikut program ini. Ada yang menyayangkan keputusan saya. Katanya sebagai seorang fresh graduated saya akan kehilangan banyak kesempatan bekerja di industri sesuai bidang saya. Ada juga yang bingung, saya bukan prodi pendidikan, tapi bisa ikut program ini. Tetapi beberapa dari mereka memuji bahkan mensupport pilihan jalan ini. Untuk masalah pekerjaan setelah selesai program nanti, saya serahkan semua kepada yang mengatur, Tuhan. Karena saya yakini ada rencana indah disediakanNya untuk saya nanti.
Ditulisan selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman selama di proses pelatihan Calon Pengajar Muda XII. Keep reading *smile*

(will) A Year in Konawe

Setahun di Konawe. Tidak pernah saya bayangkan 02 Juni nanti akan menginjakkan kaki di kaki pulau sulawesi, tepatnya Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Setahun di bumi Anoa ini, menjadi cerita baru perjalananku yang akan saya tuliskan di buku kehidupanku.

Konawe, kata yang sangat asing bagiku, karena saya hanya tahu kendari dan wakatobi kalau mengingat Sulawesi Tenggara.
Kalimat Setahun di Konawe saya cetuskan saat pelatihan minggu ketiga, teapatnya hari jumat. Saat itu diumumkan kabupaten penempatan masing masing Calon Pengajar Muda angkatan xii. Dan Konawe akan menjadi bagian dari cerita hidup saya bersama 6 teman pengajar muda lainnya.

Ada rasa kecewa diantara kami calon pengajar muda ketika mengetahui dimana kami akan belajar dan berbagi selama 12 purnama. Hal itu dikarenakan kami memiliki ekspektasi untuk di tempatkan di kabupaten pilihan kami sendiri. Tetapi penempatan ini sudah diatur sesuai formula yang terbaik oleh IM. Dan sesuai motivasi awal untuk belajar dan berbagi, semestinya kami pasti menerima dimanapun kami ditempatkan.

Berbicara tentang ekspektasi, saya awalnya ingin ditempatkan di Maluku Barat Daya. Pesisir dan pulau di MBD adalah salah satu alasannya. saya yg berasal dari pegunungan ingin menjalani bagaimana hidup belajar dan berbagi di daerah laut. Yah hanya itu alasannya. Tetapi kalau mengingat motivasi menjadi pengajar muda, dimanapun itu adalah tempat terbaik.

Apalagi ketika mengingat kata2 berikut “wahai pengajar muda, seperti benih yang di tebarkan mekarlah dimanapun kamu di tempatkan”. Quote yang luar biasa.
Setelah tahu kami bertujuh menjadi Laskar Konawe, dihari itu juga rasanya jari ini ingin googling letak geografis, sosial, dan fakta fakta unik tentang konawe. Tetapi harus menunggu malam minggu untuk bertemu dengan HP.

Ternyata Konawe merupakan daerah pegunungan ( sedikit laut), penghasil padi, dan masyarakat mayoritas muslim (sekitar 97%). Kabupaten yang awalnya adalah Kab Kendari ini bersebelahan dengan Kolaka, Kendari, Konawe Utara dan Sulawesi Selatan. Unaaha merupakan ibukota Konawe dan suku asli Konawe adalah Tolaki,juga bahasa daerahnya bahasa Tolaki.
Rasa penasaran tentang Konawe, membuat saya menjadi tidak sabar menunggu hari penempatan, 02 juni mendatang. Penasaran bagaimana hidup setahun di daerah baru dan suku yang baru ditemui, daerah yang mungkin sulit untuk menjangkau Gereja, dan daerah yang masih memiliki wilayah luas tanpa aliran listrik PLN.

Cerita perjalanan nanti setahun di Konawe akan saya catat dalam blog ini.