Menjadi Pengajar Muda (PM)


MENJADI PENGAJAR MUDA (PM) INDONESIA MENGAJAR (IM)
Pengajar Muda, sebutan untuk guru pilihan Indonesia Mengajar setelah melalui 3 tahapan seleksi yang memakan waktu kurang lebih 4 bulan. Setelah mengikuti proses seleksi tahap demi tahap, nama saya menjadi salah satu yang disebutkan di pengumuman resmi Calon Pengajar Muda angkattan 12, yang mana akan mengikuti pelatihan selama 2 bulan di Jakarta dan Purwakarta.
Menjadi pengajar muda cukuplah sulit, menurut pengalaman saya. Kesulitan diawal adalah memutuskan untuk berkarir di sektor industri atau menundanya untuk menjadi seorang guru sd selama setahun di pelosok yang belum pasti dimana. Namun dengan motivasi mengabdi dan membayar hutang ke Indonesia, saya beranikan jari ini mendaftar online di website indonesia mengajar.
Kesulitan selanjutnya, bersaing dengan hampir 15 ribu pendaftar. Info yang saya dapat setelah dinyatakan lolos ke 200 besar. Tahap 200 besar disebut tahap Direct Assesment, pada tahap ini diseleksi kembali secara langsung oleh Indonesia Mengajar. Ini merupakan seleksi yg paling ketat dari banyak seleksi yang pernah saya ikuti. Sekedar info, tahap ini dilakukan di 5 kota, salah satunya Medan. Test nya sendiri adalah wawancara, fgd (focus group discussion) , psikotest, dan test mengajar. Untuk test ini dihadirkan Assesor dari DDI yang merupakan psikolog dan alumni Pengajar Muda sendiri. Dua minggu kemudian saya tidak menyangka bisa menjadi salah satu dari 60 orang yg dinyatakan lolos dan lanjut tahap test kesehatan (medichal check up).
Saya tidak tahu bagaimana penilaian dari IM sendiri. Yang saya tahu saya bersaing dengan orang orang hebat, yang mana saya sudah mencari profile beberapa peserta test sebelumnya. Mereka adalah mahasiswa berprestasi, memiliki latar belakang organisasi yang tekenal, bahkan menjadi founder suatu komunitas gerakan. Tak sedikit jhga dari mereka memiliki prestasi internasional yg membuat mereka bolak balik keluar negeri. Ngeri ya…
Singkat cerita saya lolos tahap test kesehatan dan sampai pada tahap tanda tangan komitmen bertugas selama setahun ditambah pelatihan 2 bulan. Hal sulit disini adalah memberitahu keluarga dan meyakinkan mereka akan pilihan ini. Bapak dan Ibu setuju saya memilih jalan ini, tentunya dengan menjelaskan terlebih dahulu motivasi saya ikut program ini. Walaupun awalnya mereka lebih senang jika saya bekerja di perusahaan, bukan mrnjadi seorang guru SD. Penolakan sendiri datang dari abang saya, tetapi keputusan tetap ditangan saya. Beliau menyerahkan sendiri, dan berpesan untuk memikirkan secara matang.
Tiba dihari ulang tahun saya 14 Maret, keputusan untuk program ini saya ambil dengan yakin. Saya yakin karena motivasi awal saya. Setahun 2 bulan akan bergabung dengan IM. Dan 21 maret, resmi menjadi Calon Pengajar Muda angkatan 12 Indonesia Mengajar. Selanjutnya akan mengikuti pelatihan 2bulan untuk mengubah Calon pengajar muda XII menjadi Pengajar Muda XII.
Setelah pengumuman itu saya resign dari tempat kerja, dan menghadapi banyak pertanyaan kenapa ikut program ini. Ada yang menyayangkan keputusan saya. Katanya sebagai seorang fresh graduated saya akan kehilangan banyak kesempatan bekerja di industri sesuai bidang saya. Ada juga yang bingung, saya bukan prodi pendidikan, tapi bisa ikut program ini. Tetapi beberapa dari mereka memuji bahkan mensupport pilihan jalan ini. Untuk masalah pekerjaan setelah selesai program nanti, saya serahkan semua kepada yang mengatur, Tuhan. Karena saya yakini ada rencana indah disediakanNya untuk saya nanti.
Ditulisan selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman selama di proses pelatihan Calon Pengajar Muda XII. Keep reading *smile*

(will) A Year in Konawe

Setahun di Konawe. Tidak pernah saya bayangkan 02 Juni nanti akan menginjakkan kaki di kaki pulau sulawesi, tepatnya Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Setahun di bumi Anoa ini, menjadi cerita baru perjalananku yang akan saya tuliskan di buku kehidupanku.

Konawe, kata yang sangat asing bagiku, karena saya hanya tahu kendari dan wakatobi kalau mengingat Sulawesi Tenggara.
Kalimat Setahun di Konawe saya cetuskan saat pelatihan minggu ketiga, teapatnya hari jumat. Saat itu diumumkan kabupaten penempatan masing masing Calon Pengajar Muda angkatan xii. Dan Konawe akan menjadi bagian dari cerita hidup saya bersama 6 teman pengajar muda lainnya.

Ada rasa kecewa diantara kami calon pengajar muda ketika mengetahui dimana kami akan belajar dan berbagi selama 12 purnama. Hal itu dikarenakan kami memiliki ekspektasi untuk di tempatkan di kabupaten pilihan kami sendiri. Tetapi penempatan ini sudah diatur sesuai formula yang terbaik oleh IM. Dan sesuai motivasi awal untuk belajar dan berbagi, semestinya kami pasti menerima dimanapun kami ditempatkan.

Berbicara tentang ekspektasi, saya awalnya ingin ditempatkan di Maluku Barat Daya. Pesisir dan pulau di MBD adalah salah satu alasannya. saya yg berasal dari pegunungan ingin menjalani bagaimana hidup belajar dan berbagi di daerah laut. Yah hanya itu alasannya. Tetapi kalau mengingat motivasi menjadi pengajar muda, dimanapun itu adalah tempat terbaik.

Apalagi ketika mengingat kata2 berikut “wahai pengajar muda, seperti benih yang di tebarkan mekarlah dimanapun kamu di tempatkan”. Quote yang luar biasa.
Setelah tahu kami bertujuh menjadi Laskar Konawe, dihari itu juga rasanya jari ini ingin googling letak geografis, sosial, dan fakta fakta unik tentang konawe. Tetapi harus menunggu malam minggu untuk bertemu dengan HP.

Ternyata Konawe merupakan daerah pegunungan ( sedikit laut), penghasil padi, dan masyarakat mayoritas muslim (sekitar 97%). Kabupaten yang awalnya adalah Kab Kendari ini bersebelahan dengan Kolaka, Kendari, Konawe Utara dan Sulawesi Selatan. Unaaha merupakan ibukota Konawe dan suku asli Konawe adalah Tolaki,juga bahasa daerahnya bahasa Tolaki.
Rasa penasaran tentang Konawe, membuat saya menjadi tidak sabar menunggu hari penempatan, 02 juni mendatang. Penasaran bagaimana hidup setahun di daerah baru dan suku yang baru ditemui, daerah yang mungkin sulit untuk menjangkau Gereja, dan daerah yang masih memiliki wilayah luas tanpa aliran listrik PLN.

Cerita perjalanan nanti setahun di Konawe akan saya catat dalam blog ini.

Keluar dari Zona Nyaman

Originally Posted on : Kolom Rhenald Kasali (Kompas)

Mungkin inilah yang tidak banyak dimiliki SDM kita: kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan.

Tidak hanya itu, orang-orang tua juga kesulitan mendidik anak-anaknya agar tabah menghadapi kesulitan. Dengan memberikan pendidikan formal yang cukup atau kehidupan yang nyaman tak berarti mereka menjadi manusia yang terlatih menghadapi perubahan. Apa artinya bergelar S2 kalau penakut, jaringannya terbatas, “lembek”, cepat menyerah dan gemar menyangkal.

Tetapi maaf, ketidakmampuan keluar dari zona nyaman ini bukanlah monopoli kaum muda. Orang-orang tua yang hidupnya mapan dan merasa sudah pandai pun terperangkap di sana. Seperti apakah gejala-gejalanya?

“Saya Pikir…”

“Saya pikir hidup yang nyaman, terlindungi, tercukupi adalah hidup yang aman”, begitu pemikiran banyak orang.

Kita berpikir, apa-apa yang kita kerjakan dan membuat kita mahir sehari-hari sudah final. Dengan cara seperti itu maka kita akan melakukan hal yang sama berulang-ulang sepanjang hari, melewati jalan atau cara-cara yang sama sepanjang tahun.

Padahal segala sesuatu selalu berubah. Ilmu pengetahuan baru selalu bermunculan dan saling menghancurkan. Teknologi baru berdatangan menuntut ketrampilan baru. Demikian juga peraturan dan undang-undang. Pemimpin dan generasi baru juga mengubah kebiasaan dan cara pandang. Ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, pola, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah. Ilmu, keterampilan dan kebiasaan kita pun menjadi cepat usang.

Jalan-jalan yang nyaman kita lewati juga cepat berubah menjadi amat crowded dan macet, sementara selalu saja ada jalan-jalan baru.

Baca lebih lanjut

Ikut Gerakan, Satu Cara Terlibat Menyelesaikan Persoalan Pendidikan Indonesia

anies baswedan berbagi inspirasi

bbc.co.uk

Pendidikan Indonesia saat ini masih jauh dari harapan, bila dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara lain seperti Finlandia, Amerika Serikat dan lainnya. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan berpendapat bahwa Pendidikan Indonesia dalam masa “gawat darurat” (Kompas.com, 2014). Pendapat tersebut didukung dengan beberapa data yang merupakan hasil survei nasional dan internasional. Kualitas yang masih dibawah rata-rata tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Dan itu menjadi program utama menteri pendidikan demi membaiknya persoalan pendidikan di Indonesia.

Persoalan pendidikan di Indonesia disebabkan berbagai hal. Dimulai dari masalah kualitas dan kuantitas Guru didaerah 3T, sekolah yang tidak layak, kecurangan-kecurangan yang terjadi, sistem yang kurang baik, kurikulum, dan lainnya. Itu menjadi persoalan utama dan menjadi fokus pemerintah saat ini.

Lantas apakah dalam memajukan pendidikan di Indonesia hanya tugas Pemerintah saja? Tentu tidak. Masyarakat umum/swasta sangat diperlukan campur tangannya dalam meningkatkan pendidikan. Berbagai cara bisa dilakukan masyarakat untuk ikut serta menyelesaikan persoalan pendidikan sedikit demi sedikit, terutama persoalan kecil yang tidak terjangkau oleh pemerintah dan bisa ditangani oleh masyarakat.

Bagaimana keterlibatan masyarakat terkhusus Mahasiswa? Membuat Gerakan atau ikut suatu gerakan adalah salah satu solusinya.

Baca lebih lanjut

Fokus Skripsi, Ini yang Akan Kamu Alami

skripsi

Gambar : kaskus.com

Mahasiswa tingkat akhir, sebutan yang paling sering dilontarkan bagi mereka yang sedang fokus skripsian. Mahasiswa tingkat akhir adalah dimana posisi selangkah lagi mendapatkan gelar sarjana. Tinggal selangkah lagi, tapi langkah itu adalah langkah yang paling sulit dari semua langkah sebelumnya yang sudah dijalani.

Biasanya ketika sudah di tahap ini, mata kuliah sudah sedikit atau bahkan tidak ada lagi. Sudah saatnya fokus pada yang namanya skripsi atau sering juga disebut tugas akhir. Rata-rata mahasiswa fokus pada skripsi itu, pada semester 8. Tetapi ada juga di semester 7 atau lainnya.

Pada tahap tingkat akhir ini, aktivitas mahasiswa berubah drastis dari sebelumnya. Terutama aktivitas di dalam kampus. Memiliki jadwal yang tidak tentu, lain dari biasanya. Perubahan aktivitas itu menjadi hal yang wajar bagi mereka yang ingin lulus paling lama batas standar jenjang, misalnya pada S-1, standarnya 4 Tahun. Memilih fokus skripsi, banyak hal yang akan kamu alami.

Sering Mengunjungi Perpustakaan

Fokus untuk skripsi dimulai dari pertemuan dengan pembimbing skripsi. Pertemuan dengan pembimbing (jiak pertemuannya lancar) akan menghasilkan topik untuk skripsi. Dengan ini mahasiswa tingkat akhir akan bergerak cepat. Salah satu pilihan tempat yang paling tepat adalah Perpustakaan. Pengunjung permpustakaan akan nai 100% bahkan lebih ketika skripsian sedang musim. Pengunjung biasa ditambah dengan pengunjung dadakan karena skripsi.

Perpustakaan adalah gudangnya sumber bagi mereka yang ingin skripsian. Berbagai buku dan jurna menjadi incaran. Selain itu koleksi skripsi menjadi incaran paling utama bagi mereka. Karena koleksi skripsi akan menjadi panduan sekaligus sumber untuk skripsi selanjutnya. Beberapa perpustakaan memiliki satu lantai yang dikhususkan untuk koleksi skripsi, tesis dan disertasi. Disana akan selalu dipenuhi mereka yang lagi skripsian.

Skripsi selalu menjadi Topik Pembicaraan

Sesama mahasiswa tingkat akhir akan sering berjumpa dengan tidak sengaja. Bertemu di kantor jurusan mengurus administrasi tugas akhir, surat-surat dan lainnya. Bertemu di ruang dosen, lab, ruang kuliah hanya menugnggui doesen untuk revisi dan bimbingan. Bertemu di kantin ketika jam makan siang. Topik pembicaraan utama adalah skripsi dan perkembanagnnya. Bahkan ketika bertemu adik angkatan seaklipun, mereka akan menanyakan masalah skripsi. Hal yang menyenangkan bagi mereka, jika skripsian nya lancar. Tapi lain hal bagi yang tersendat karena banyak faktor.

Selalu Menunggu Dosen

Bertemu dosen memang sudah biasa ketika perkuliahan. Tetapi bertemu secara pribadi dan berbicara empat mata tidak jarang bagi yang lagi skripsian. Sebelum bertemu, keduanya membuat janji terlebih dahulu. Baik melalui telepon atau pertemuan sebelumnya. Ketika sudah waktunya bertemu, mahasiswa akan cepat dan lebih baik menunggu daripada ditunggu. Ketika sudah datang lebih awal, terkadang ada-ada saja mahasiswa yang di PHP. Banyak dosen itu orang sibuk, dan lupa sama jadwal bimbingan. Dan dosen yang dijumpai tidak hanya dosen pembimbing, tetapi juga penguji yang meminta revisi setelah seminar proposal penelitian skripsi. Pada situsi ini mahasiswa juga terkadang lupa makan siang, demi sebuah tandatangan atau revisi dosen. Tetapi mereka akan sangat senang jika pertemuan dengan dosen berjalan dengan lancar.

Sering Ditolak

Mahasiswa pada tahap ini sering ditolak dosen. Awal pengerjaan skripsi yang diawali dengan penentuan judul, mahasiswa akan mengajukan topik atau judul kepada dosen pembimbing. Pada saat itu, tidak jarang pembimbing menolak ide topik yang kita berikan. Penolakan ini biasanya dikarenakan, ide yang biasa saja, tidak sesuia dengan bidang pembimbing, dan lainnya. Bahkan tidak jarang ditoak hingga beberapa kali, hanya masalah topik penelitian skripsi. Disini kadang mhasiswa akan galau.

Lain hal dengan yang memiliki dua dosen pembimbing. Hal yang membuat galau adalah kedua dosen pembimbing pro dan kontra. Pembimbing satu setuju dan dan pembimbing dua tidak. Pada situasi ini,yang terjepit adalah si mahasiswa.

Mengorbankan Waktu Senang

Fokus pada skripsi,waktu bersenang-senang harus dikorbankan. Mahasiswa yang biasanya sering bermain futsal, nongkrong di kantin/cafe, belanja, main PES dan lainnya akan diganti dengan menunggu dosen, mengurus berkas dan surat, mencari buku, mencari jurnal, seminar, penelitian dan lainnya.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir yang fokus skripsi bukanlah hal yang mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit selama dijalankan dengan sebaik mungkin. Masih banyak hal yang dialami mahasiswa yang fokus skripsi. Berbeda kampus dan tempat, berbeda juga hal yang dialami mahasiswa tingkat akhir. Dan beberapa diatas adalah hal yang umum dialami.

Pengalaman PKL di PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Aceh

Semester akhir, semester sibuk. Waktunya fokus PKL (Praktek Kerja Lapangan) dan Skripsi. Yah, saya melewatkan sedikit momen tahun baru bersama teman satu PKL. Tanggal 02 Januari sudah berkemas dan berangkat ke Lhokseumawe untuk PKL.

Satu bulan lebih, Januari-Februari, banyak pengalaman yang saya dapatkan selama satu bulan di PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Aceh. Sekilas PT PIM adalah salah satu pabrik petrokimia terbesar di Indonesia. Pupuk Urea dan Ammonia adalah produk utama perusahaan BUMN ini sejak berdiri di tahun 1982. Pabriknya berada di Krueng Geukuh, Aceh Utara. Menurut Pak Nur (Analis Lab PIM) karyawan PT PIM saat ini berjumlah sekitar 900 orang.

Bekerja di laboratorium Pusat PIM bersama 2 teman PKL (Melika dan Tienditha) dan 8 orang analis laboratorium Pusat. Sebenarnya ada 4 lab di PIM. 3 lab unit dan 1 lab pusat. Lab unit digunakan khusus untuk masing masing unit (Utility, Ammonia, dan Urea) dan lab ini lebih kecil karena digunakan khusus.

Menjadi Karyawan 30 hari

Menjadi karyawan 30 hari PT PIM cukup membuat saya mengerti dunia industri itu seperti apa. PKL di perusahaan dengan 900 orang karyawan ini menyatakan dunia kerja itu seperti apa, yang selama ini hanya dalam bayangan saya saja. Setiap hari bekerja mulai pukul 07.00 dengan Karyawan berseragam biru ini, memberikan semangat tersendiri yang menghilangkan rasa bosan. Semua karyawan memiliki seragam yang sama, tidak tampak mana general manager, manager, superintendent, supervisor dan staf biasa. Yang tampak adalah mahasiswa PKL dengan seragam yang beda.

Baca lebih lanjut

35 Kunci Sukses di Usia Muda ala Billy Boen, Young On Top

a madeandi's life

Kunci Sukses

Saya membaca bukunya Mas Billy Boen, penggagas Young on Top, tentang 35 Kunci Sukses di Usia Muda. Bukunya keren dan sudah pernah saya twit sebelumnya. Buku ini bagus karena mengandung tips yang tidak saja inspiratif tetapi juga praktis sifatnya. Saya rekomendasikan anak muda membaca buku ini. Membaca buku ini seperti membaca banyak buku bersama Billy Boen dan belajar dari banyak tokoh besar karena banyak kutipan. Berikut 35 tips sukses di usia muda ala Billy Boen.

Lihat pos aslinya 2.049 kata lagi